Daerah

Jetty PT PMS Ditutup, Warga Hakatutobu Kehilangan Mata Pencaharian

688
×

Jetty PT PMS Ditutup, Warga Hakatutobu Kehilangan Mata Pencaharian

Sebarkan artikel ini
Jetty PT PMS Ditutup, Warga Hakatutobu Kehilangan Mata Pencaharian

KOLAKA – Sejumlah pekerja dan masyarakat Desa Hakatutobu, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, menyayangkan penghentian aktivitas pertambangan di jetty milik PT Putra Mekongga Sejahtera (PMS) yang diduga dilakukan oleh seorang warga yang mengklaim memiliki hak atas lahan di kawasan tersebut.

Penutupan aktivitas jetty tersebut dinilai berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat sekitar. Sejumlah usaha kecil di sekitar lokasi disebut terpaksa tutup karena berkurangnya aktivitas ekonomi dan tidak adanya pembeli.

Salah seorang masyarakat Desa Hakatutobu yang juga bekerja sebagai tenaga bongkar muat (PBM) di jetty PT PMS, Iwan Parman, mengaku keberadaan perusahaan selama ini sangat membantu kehidupan masyarakat.

Menurutnya, PT PMS selama beroperasi tidak pernah menunggak pembayaran gaji para pekerja dan selalu memenuhi hak-hak karyawan tepat waktu.

“Selama ada PMS, kami masyarakat sangat terbantu. Gaji pekerja tidak pernah terlambat. Setelah pekerjaan selesai, hak kami langsung dibayarkan. Karena itu, kami berharap pemerintah, termasuk Presiden Republik Indonesia, dapat membantu agar aktivitas perusahaan kembali dibuka karena banyak masyarakat menggantungkan hidup di sini,” ujar Iwan, Sabtu (27/6/2026).

Ia menambahkan, ribuan masyarakat bergantung pada aktivitas perusahaan tersebut, sehingga penghentian operasional berdampak besar terhadap pendapatan warga.

Senada dengan itu, warga Dusun III Desa Hakatutobu, Abdul, mengaku masyarakat merasa kebingungan dengan munculnya persoalan yang berujung pada terhentinya aktivitas perusahaan.

Menurutnya, sejak PT PMS beroperasi, masyarakat sekitar memperoleh tambahan penghasilan, baik sebagai pekerja maupun melalui aktivitas usaha kecil seperti kios.

“Kami masyarakat sangat terbantu dengan adanya PMS. Tiba-tiba muncul persoalan seperti ini sehingga masyarakat bingung. Selama ini operasional perusahaan berjalan lancar, tetapi tiba-tiba ada pihak yang mengklaim lahan tersebut,” katanya, Minggu (28/6/2026).

Abdul mengatakan, dampak penghentian operasional tidak hanya dirasakan para pekerja, tetapi juga pelaku usaha kecil di sekitar jetty. Banyak kios yang kini mengalami penurunan pendapatan bahkan terpaksa tutup.

Selain itu, kata dia, perusahaan juga selama ini memberikan kontribusi kepada masyarakat melalui berbagai bantuan sosial yang menyerupai program tanggung jawab sosial perusahaan.

“Kalau perusahaan tidak beroperasi, ekonomi masyarakat ikut terganggu. Banyak kios tutup karena tidak ada pembeli. Selama ini perusahaan juga sering membantu masyarakat secara langsung,” ungkapnya.

Masyarakat berharap pemerintah dapat memfasilitasi pertemuan antara pihak-pihak yang berselisih guna mencari solusi terbaik agar persoalan tersebut dapat segera diselesaikan.

“Harapan kami, pemerintah bisa mempertemukan semua pihak untuk duduk bersama mencari jalan keluar. Yang penting ada solusi yang baik sehingga masyarakat tidak terus dirugikan akibat persoalan ini,” tutup Abdul. (red/rls)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *