Hukum & Kriminal

SMAN 2 Kendari Klarifikasi Isu Seragam Siswa Baru: Tidak Pernah Ada Pemaksaan

15
×

SMAN 2 Kendari Klarifikasi Isu Seragam Siswa Baru: Tidak Pernah Ada Pemaksaan

Sebarkan artikel ini
SMAN 2 Kendari

KENDARI – Kepala SMAN 2 Kendari, Nur Aida, memberikan klarifikasi terkait isu kewajiban pembelian paket atribut dan seragam bagi siswa baru.

Nur Aida menyayangkan informasi yang menurutnya tidak melalui proses konfirmasi kepada pihak sekolah.

Ia mengaku kaget setelah mengetahui adanya informasi yang dinilai menyudutkan SMAN 2 Kendari.

“Saya jujur kaget dengan pemberitaan ini karena tidak ada konfirmasi sebelumnya. Tidak ada izin untuk menerbitkan berita, tidak ada izin mengambil foto atau video saya dan anak-anak,” ujar Nur Aida, Rabu (02/09/2026).

Ia juga menilai data yang dimuat dalam informasi tersebut tidak sesuai.

Menurutnya, jumlah siswa baru SMAN 2 Kendari tahun ini mencapai 432 orang. Sementara data yang dicantumkan dalam informasi disebut merupakan data tahun sebelumnya.

Nur Aida mengatakan, pihak sekolah bersama pengurus koperasi dan tim Humas sebenarnya telah menunggu kedatangan pewarta untuk memberikan penjelasan.

Namun, kata dia, pihak yang dimaksud tidak datang untuk melakukan konfirmasi secara langsung.

Terkait isu pemaksaan pembelian seragam, Nur Aida menegaskan bahwa SMAN 2 Kendari tidak pernah mewajibkan siswa baru membeli satu paket seragam.

Bahkan, menurutnya, sekolah memberikan kelonggaran kepada siswa dalam penggunaan seragam.

Sejak masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) hingga saat ini, siswa masih diperbolehkan menggunakan seragam dari sekolah asal mereka, baik SMP maupun MTs.

Sementara itu, koperasi sekolah hanya menyediakan berbagai kebutuhan siswa, seperti pakaian batik, tenun, olahraga, baju koko, topi, dasi hingga buku.

Orang tua siswa juga tidak diwajibkan mengambil seluruh item dalam satu paket.

“Mereka bebas memilih item apa saja yang ingin dibeli sesuai kebutuhan. Bahkan seragam bekas milik kakak, saudara atau atribut lama yang masih layak digunakan juga diperbolehkan,” jelasnya.

Nur Aida kembali menegaskan tidak ada tekanan kepada siswa maupun orang tua untuk membeli paket seragam.

“Tidak pernah ada satu pun siswa yang ditekan atau diwajibkan membeli satu paket. Kalau dihitung total dari ujung rambut sampai ujung kaki memang nilainya terlihat tinggi, tetapi koperasi hanya menyiapkan dan orang tua mengambil apa yang mereka butuhkan saja,” tegasnya.

Pihak sekolah juga menegaskan komitmennya membantu siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu.

Nur Aida mengatakan, sekolah secara aktif melakukan pendataan terhadap siswa yang membutuhkan bantuan.

Data tersebut nantinya diusulkan untuk mendapatkan bantuan seragam gratis dari pemerintah daerah, termasuk melalui program Gubernur/ASN serta Program Indonesia Pintar (PIP).

Ia pun mengimbau kepada orang tua siswa agar tidak ragu menyampaikan kendala yang dihadapi kepada pihak sekolah.

“Hubungan kami dengan orang tua siswa selama ini sangat baik. Bagi orang tua yang kurang mampu, kami buka keran selebar-lebarnya untuk dibantu,” katanya.

Nur Aida berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui komunikasi dan konfirmasi secara langsung.

“Kami berharap ke depan tidak ada lagi pemberitaan sepihak dan kita bisa saling menghargai sesuai kode etik yang berlaku,” pungkasnya.

Penulis : Vebrian
Editor : Agus Setiawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *