Ekonomi & Bisnis

Pakar Ekonomi Prof Nurwati : 2025, Ekonomi Sultra Diproyeksi Tumbuh Positif

19055
×

Pakar Ekonomi Prof Nurwati : 2025, Ekonomi Sultra Diproyeksi Tumbuh Positif

Sebarkan artikel ini
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Halu Oleo, Prof.Nurwati.

LENSATIMOR.COM, KENDARI – Ekonomi Sulawesi Tenggara (Sultra) diproyeksikan tumbuh tumbuh positif pada tahun 2025. Hal ini disampaikan oleh Pengamat Ekonomi, Prof. Nurwati, Minggu (05/12/2024).

Prof. Nurwati menjelaskan bahwa proyeksi tersebut didasarkan pada beberapa faktor, antara lain, peningkatan investasi di sektor pertambangan.

“Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) kaya akan sumber daya alam, terutama nikel.  Peningkatan investasi di sektor ini diyakini akan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi,” ungkap Prof.Nurwati di kutip dari Media Cetak Kendari Pos.

Selanjutnya, pertumbuhan sektor pariwisata. Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Halu Oleo (UHO) ini, potensi wisata bahari dan budaya Sultra yang masih belum tergarap secara maksimal diprediksi akan memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian daerah.

Kemudian, pengembangan sektor pertanian. Diversifikasi komoditas pertanian dan peningkatan produktivitas diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi.

Terakhir, peningkatan infrastruktur. Menurutnya, pembangunan infrastruktur yang terus dilakukan pemerintah, seperti jalan, pelabuhan, dan bandara, akan mempermudah aksesibilitas dan meningkatkan daya saing ekonomi daerah.

Meskipun demikian, Prof. Nurwati mengingatkan bahwa beberapa tantangan masih perlu diatasi untuk mencapai proyeksi tersebut.

Tantangan tersebut antara lain, keterbatasan sumber daya manusia. “Perlu peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing di pasar kerja yang semakin kompetitif,” ungkap Prof.Nurwati.

Tantangan selanjutnya yakni kesenjangan ekonomi. Pemerataan pembangunan ekonomi perlu ditingkatkan agar kesejahteraan masyarakat merata di seluruh wilayah Sultra.

Yang tak kalah penting, kata Prof Nurwati yakni, ketidakpastian global. Kondisi ekonomi global yang dinamis dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah.

Ia menambahkan pentingnya kolaborasi dan sinergi untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif di Sultra.

“Saya harap potensi ekonomi Sulawesi Tenggara di tahun ini (2025) dapat dioptimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Prof.Nurwati.

Terpisah, Kepala Bank Indonesia Provinsi Sultra, Doni Septadijaya, optimis bahwa ekonomi daerah bisa tumbuh positif pada tahun 2025. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang positif di tahun sebelumnya (2024).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Sultra pada Triwulan III 2024 tumbuh sebesar 5,4 persen year on year (yoy).

Pertumbuhan ekonomi didukung oleh terjaganya ekonomi pada sektor Pertanian dan Perikanan, Pertambangan, Konstruksi, Perdagangan dan Industri Perdagangan dan Administrasi Pemerintahan.

“Dan tahun 2025 lebih baik lagi, inflasi kita lihat sudah rendah, stabil, terjaga dan mudah-mudahan tahun depan sesuai dengan target pemerintah kita di angka 5 persen,” ujar Doni Septadijaya.

Bank Indonesia ingin memberikan sinyal positif kepada pemerintah daerah sesuai arahan dari Bapak Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, untuk melakukan sinergitas secara bersama-sama, bagaimana pertumbuhan ekonomi bisa terus berlanjut.

“Dimana, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir kita hanya di angka 5 persen saja, harapannya bisa naik lagi dan inflasi terus terjaga dan stabil,” kata Doni.

Sekedar informasi, Pada 2024, sebanyak enam lapangan usaha dengan kontribusi terbesar terhadap ekonomi, yakni Pertanian, Pertambangan, Konstruksi, Perdagangan, Industri Pengolahan, dan Administrasi Pemerintahan menunjukkan pertumbuhan positif.

Sektor Pertanian dan Perikanan tumbuh 4,08 persen (distribusi/dominasi 22,47 persen), pertambangan 7,77 persen (21,61 persen), konstruksi 1,56 persen (13,14 persen, Perdagangan 2,26 persen (12,75 persen), Industri Pengolahan 8,82 persen (8,73 persen), dan Adminstrasi Pemerintahan 18,88 persen (distribusi/dominasi 4,67 persen).

Berdasarkan data BPS, Lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi adalah Administrasi Pemerintah didorong oleh kenaikan belanja pegawai (khusunya pembayaran gaji PPPK).

Selanjutnya, Industri Pengolahan didukung oleh Peningkatan produksi industri logam dasar. Kemudian peningkatan industri tekstil karena banyak event karnaval dan peringatan hari kemerdekaan RI yang mengenakan berbagai kostum, serta permintaan seragam sekolah.

Terakhir pada sektor Pertambangan didukung oleh kenaikan produksi bijih logam, aspal, dan penggalian batu.

Editor : Cici Purnamasari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *