KENDARI – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana di musim kemarau.
Berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau panjang di Kota Kendari diprediksi akan berlangsung hingga November mendatang.
Kepala BPBD Kota Kendari, Cornelius Padang, menyampaikan bahwa ada dua ancaman utama bencana hidrometeorologi kering yang perlu diantisipasi selama periode ini, yakni potensi kebakaran (baik pemukiman maupun lahan dan hutan) serta krisis atau defisit air bersih.
“Ancaman kekeringan ini terutama berpotensi terjadi di wilayah-wilayah yang selama ini mengandalkan sumber air dari pegunungan maupun air tanah. Permukaan air dan sumur warga berpotensi mengering akibat kemarau panjang ini,” ujar Cornelius, Kamis (20/08/2026).
Sebagai langkah konkret, Pemerintah Kota Kendari telah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Wali Kota Kendari Nomor 600 Tahun 2026 tertanggal 11 Agustus 2026 tentang Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi Kering.
Dengan diterbitkannya SK tersebut, seluruh perangkat daerah terkait disiagakan untuk mengantisipasi dan meminimalkan dampak kekeringan serta potensi kebakaran lahan.
Selain menetapkan status siaga, Pemerintah Kota Kendari juga mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau.
Melalui BPBD Kota Kendari, masyarakat diminta tidak membakar lahan maupun sampah sembarangan serta menghemat penggunaan air bersih sesuai kebutuhan.
Warga juga diingatkan memastikan kompor dan peralatan listrik dalam kondisi mati saat meninggalkan rumah.
Selain itu, masyarakat diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan dan memperbanyak konsumsi air minum untuk mencegah dehidrasi akibat cuaca panas.
BPBD juga meminta masyarakat segera melaporkan apabila terjadi kebakaran atau krisis air bersih melalui Call Center 112, sehingga dapat segera ditangani oleh petugas.
Cornelius mengungkapkan, BPBD telah mencatat kurang lebih 10 titik lokasi kebakaran lahan yang sempat terjadi belakangan ini.
Berdasarkan Kajian Risiko Bencana (KRB), wilayah dengan potensi tinggi kebakaran lahan didominasi oleh area lahan terbuka dan lahan kosong milik masyarakat.
“Kami menemukan masih ada warga yang nekat membuka lahan dengan cara membakar, seperti yang baru-baru ini terjadi di belakang Nanga-Nanga. Hal ini sangat berbahaya, apalagi vegetasi dan dahan-dahan sudah lebih dari sebulan tidak terkena hujan sehingga sangat mudah terbakar,” tegasnya.
Dalam hal kesiapsiagaan operasional, BPBD Kota Kendari terus berkoordinasi erat dengan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Kendari sebagai armada utama penanganan kebakaran.
BPBD menopang operasional Damkar dengan menyiagakan mobil tangki air untuk mendistribusikan air bersih ke masyarakat yang terdampak kekeringan maupun menyuplai kebutuhan air saat pemadaman api.
BPBD meminta jajaran camat, lurah, hingga ketua RT/RW untuk terus meneruskan imbauan ini secara masif agar masyarakat terhindar dari bahaya kebakaran dan dampak kemarau panjang.
Penulis : Vebrian
Editor : Agus Setiawan











