Ekonomi & Bisnis

OJK Sultra Optimis Target Nasional 91 Persen Bisa Tercapai Pada Desember 2025

475
×

OJK Sultra Optimis Target Nasional 91 Persen Bisa Tercapai Pada Desember 2025

Sebarkan artikel ini
Bismi Maulana Nugraha

LENSATIMOR.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) terus berupaya dalam memperkuat literasi agar masyarakat melek keuntungan.

Hal tersebut dilakukan dengan berbagai program literasi dan inklusi keuangan, OJK Sultra optimistis target nasional sebesar 91 persen pada Desember 2025 dapat tercapai.

Kepala OJK Sultra, Bismi Maulana Nugraha, menjelaskan bahwa tingkat literasi keuangan di Sultra saat ini baru mencapai 63 persen, sedangkan inklusi keuangan berada pada angka 83 persen.

“Ini artinya, masih banyak masyarakat yang menggunakan layanan keuangan tanpa memahami produk dan risikonya.” Kata Bismi Maulana (26/10/25)

Ia melanjutkan, target nasional OJK yakni 91 persen di tahun 2025. Masih ada waktu untuk mengejar, dan kegiatan seperti BIK (Bulan Inklusi Keuangan) bisa menjadi motor penggeraknya.

“Kita upayakan mengejar target untuk bisa mencapai 91 persen ini, melalui Bulan Inklusi Keuangan (BIK) kita optimis dapat menjadi motor penggerak.” Lanjutnya

Namun demikian, Bismi mengakui, masih ada terdapat sejumlah tantangan dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di wilayahnya ini.

Beberapa tantangan tersebut seperti, kondisi geografis dan demografis Sultra yang terdiri dari banyak pulau dan wilayah terpencil menjadi hambatan tersendiri dalam memperluas jangkauan edukasi keuangan.

“Meski begitu, masih ada beberapa tantangan kami dalam meningkatkan literasi, diantaranya kondisi geografis dan demografis.” Bebernya

Selain itu, banyak masyarakat sudah menggunakan produk keuangan, namun belum memahami karakteristik, risiko, dan fungsinya secara mendalam.

Kemudian, kendala keterbatasan jaringan dan infrastruktur digital juga menjadi tantangan utama. Karena, masih ada beberapa daerah di Sultra, yang akses internet belum merata, padahal edukasi digital dapat dilakukan melalui media sosial.

“Kalau keterbatasan internet, kita harus datang. Kalau pendidikannya rendah, kita harus berkali-kali. Kita buat materi yang lebih simpel. Bagi saya, tantangan itu harus kita ubah jadi tentengan,” tegasnya.

Penulis : Ariani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *