LENSATIMOR.COM, SULAWESI TENGGARA – Mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) yang melaksanakan KKN-PPM (Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat) di Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) berhasil menyelamatkan seekor Burung Rangkong dari ancaman kematian.
Daffa, Mahasiswa UGM menjelaskan kronologi penyelamatan Burung Rangkong oleh Tim KKN-PPM UGM.
Ia mengungkapkan, penyelamatan dilakukan pada Jumat (19/07/2024). Awalnya, pihaknya mendapatkan informasi dari warga Desa Moolo Kabupaten Muna yang melaporkan seekor Burung Rangkong tergeletak di Jalan Raya akibat terkena peluru senapan angin oleh oknum tak bertanggung jawab.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, salah satu anggota KKN-PPM UGM merasa iba dan menawarkan untuk mengobati Burung Rangkong di Pondokan mengingat terdapat mahasiswa yang berasal dari Fakultas Kedokteran Hewan.

“Saat dibawa ke pondokan, sontak kami semua kaget. Baru pertama kali kami melihat spesies burung langka ini, ditambah lagi dengan keadaan terluka di bagian kaki dan sayap karena senapan angin,” ungkap Daffa dalam keterangan pers-nya kepada Media ini, Minggu (04/08/2024).
Setibanya di pondokan, dua mahasiswa KKN-PPM yang berasal dari Fakultas Kedokteran Hewan langsung sigap untuk memberikan pertolongan Burung Rangkong ini.
“Mereka berdua langsung melakukan penanganan pertama berupa pembersihan dan penutupan luka dengan betadine dan kassa. Setelah itu, mereka menuju ke puskesmas untuk mencari underpad dan spuit untuk kebutuhan sehari-hari Burung Rangkong,” kata Daffa.

“Untungnya, puskesmas bersedia memberikan underpad dan spuit secara gratis. Kami pun segera membaringkan Burung Rangkong di dalam kardus dengan dialasi underpad dan mencarikan posisi sebaik mungkin agar Burung Rangkong bisa berbaring dengan nyaman,” sambungnya.
Tidak cukup sampai situ, Tim KKN-PPM juga melakukan konsultasi dengan Dokter Hewan yang ahli dalam bidang konservasi terkait langkah apa yang selanjutnya perlu dilakukan untuk menyelamatkan Burung Rangkong ini.
“Sembari menunggu arahan serta resep obat dari dokter hewan ahli konservasi, kami berusaha untuk menghubungi Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) daerah setempat,” kata Daffa.
Setelah mendapatkan resep obat dari dokter hewan ahli konservasi, lanjut dia, Tim KKN-PPM langsung menuju ke rumah petugas kesehatan hewan di Maligano, kecamatan sebelah, yang berjarak kurang lebih 12 kilometer.
Sesampainya di rumah petugas kesehatan, mahasiswa UGM yang berasal dari Fakultas Kedokteran ini disambut oleh Daud (60) seorang petugas kesehatan hewan yang hampir setiap hari berkelana di sekitar Kecamatan Batukara untuk mengobati hewan ternak.
“Mereka bercengkrama cukup lama sebelum izin pamit untuk melakukan perjalanan pulang. Sembari memberikan obat yang sudah diresepkan, Pak Daud berpesan agar kami berhati-hati selama perjalanan membawa obat untuk burung Rangkong,” kata Daffa.
Setibanya di Pondokan, Tim KKN-PPM bergegas mengobati luka Burung Rangkong dengan memberikan obat antibiotik merk Ampicillin dan Vetoxy.
Empat hari menunggu kabar dari BKSDA, tepat pada Senin (22/07/2024) Tim Penyelamat BKSDA datang untuk menjemput Burung Rangkong yang sempat diselamatkan Tim KKN-PPM UGM.
“Kami menceritakan tentang kondisi Burung Rangkong dan penanganan apa saja yang sudah kami lakukan. Setelah berdiskusi selama kurang lebih 20 menit, kedua petugas tersebut pamit izin melanjutkan perjalanan dan membawa Burung Rangkong untuk dibawa ke Kantor BKSDA di Kendari untuk dirawat lebih lanjut dan dilepas kembali ke alam,” pungkasnya.
Sekedar informasi, Rangkong adalah sejenis burung yang mempunyai paruh berbentuk tanduk sapi tetapi tanpa lingkaran. Biasanya paruhnya itu berwarna terang. Nama ilmiahnya Buceros merujuk pada bentuk paruh, dan memiliki arti “tanduk sapi” dalam Bahasa Yunani.
Burung Enggang tergolong dalam familia Bucerotidae yang termasuk 59 spesies. Sembilan spesies daripadanya berasal endemik di bagian selatan Afrika dan diantaranya ada 13 jenis Rangkong dapat ditemukan di Indonesia terutama di Pulau Sulawesi. Karena bentuk paruhnya yang unik, burung yang masuk kategori hewan dilindungi ini rawan diburu. Populasinya pun kini tinggal sedikit dan berada diambang kepunahan.(daf)











