Metro Kota

Lurah Anduonohu Bantah Isu Bantuan Pangan Harus Ditukar Botol Plastik: Itu Mengedukasi Pemilahan Sampah

50
×

Lurah Anduonohu Bantah Isu Bantuan Pangan Harus Ditukar Botol Plastik: Itu Mengedukasi Pemilahan Sampah

Sebarkan artikel ini
Lurah Anduonohu Ismayadin menegaskan, informasi tersebut tidak benar. Ia memastikan warga penerima manfaat tetap mendapatkan bantuan pangan sesuai haknya tanpa syarat harus membawa botol plastik.

RADAR KENDARI – Lurah Anduonohu, Ismayadin Alkaf, angkat bicara terkait kabar yang menyebut warga penerima bantuan pangan diwajibkan membawa botol plastik bekas ke kantor kelurahan.

Ismayadin menegaskan, informasi tersebut tidak benar. Ia memastikan warga penerima manfaat tetap mendapatkan bantuan pangan sesuai haknya tanpa syarat harus membawa botol plastik.

“Tidak, itu sebenarnya imbauan untuk memilah sampah dari rumah. Kalau warga tidak membawa sampah plastik pun, bantuan pangan tetap kami berikan,” tegas Ismayadin, Selasa (08/09/2026).

Menurutnya, membawa botol plastik ke kantor kelurahan hanya bagian dari edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya memilah sampah sekaligus melihat sampah sebagai sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.

Kelurahan Anduonohu bersama salah satu kelurahan lain di Kecamatan Poasia saat ini ditunjuk sebagai pilot project atau (proyek percontohan) pengelolaan sampah mandiri melalui Lembaga Pengelola Sampah (LPS).

Dalam program tersebut, proses pengangkutan dan pengolahan sampah melibatkan pihak ketiga.

Untuk menekan biaya iuran sampah bulanan warga yang besarannya disesuaikan dengan kesepakatan, pihak kelurahan mendorong masyarakat mulai memilah sampah dari rumah.

Sampah dipisahkan menjadi sampah organik dan anorganik. “Sampah plastik yang bernilai ekonomis bisa dijual kembali untuk membantu mengurangi beban iuran sampah warga. Sedangkan untuk sampah basah atau organik, kita edukasi agar diolah menggunakan composter menjadi pupuk,” jelasnya.

Pupuk yang dihasilkan dari pengolahan sampah organik tersebut nantinya dapat dimanfaatkan oleh kelompok Dasa Wisma untuk menyuburkan kebun yang dikelola masyarakat.

Hasil panen dari kebun Dasa Wisma pun diharapkan dapat kembali dinikmati oleh masyarakat sekitar.

Ismayadin menambahkan, melalui program percontohan tersebut, keberadaan tempat penampungan sampah sementara (TPS) secara bertahap akan dikurangi.

Sebagai gantinya, pengelolaan sampah diarahkan menggunakan sistem pemilahan dan pengolahan berbasis komunitas.

Ia berharap masyarakat tidak salah memahami kegiatan sosialisasi pemilahan sampah yang dilakukan pihak kelurahan.

Menurutnya, program tersebut tidak berkaitan dengan syarat penerimaan bantuan pangan, melainkan bertujuan menciptakan lingkungan yang lebih bersih sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat Anduonohu.

Editor : Agus Setiawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *