Ekonomi & Bisnis

BI Sultra Catat Ekonomi Sultra Tahun 2025 Tumbuh Sebesar 5,79 Persen

81
×

BI Sultra Catat Ekonomi Sultra Tahun 2025 Tumbuh Sebesar 5,79 Persen

Sebarkan artikel ini
Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tenggara, Edwin Permadi.

LENSATIMOR.COM – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat perkembangan ekonomi Sultra pada tahun 2025, tumbuh sebesar 5,79 persen (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sultra Edwin Permadi mengatakan capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2024 yang berada pada angka 5,40 persen (yoy) dan berada di atas pertumbuhan nasional 5,11 persen (yoy).

“Kinerja ekonomi Sultra pada Triwulan IV-2025 dibandingkan Triwulan IV-2024 tumbuh sebesar 5,94% (yoy). Dari sisi penawaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Jasa Keuangan sebesar 17,27% (yoy), melalui ekspansi kredit dan transaksi digital, serta LU Akomodasi dan Makan Minum seiring adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan berbagai ajang nasional,” ungkap Edwin Selasa (10/2).

Edwin menjelaskan, pertumbuhan juga diperkuat oleh LU Informasi dan Komunikasi akibat lonjakan aktivitas digital masyarakat, meski tertahan oleh kinerja yang lebih rendah pada LU Pengadaan Air dan Administrasi Pemerintahan.

“Pertumbuhan ekonomi pada sisi permintaan ditopang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) melalui pembangunan kawasan industri dan fasilitas pendidikan, serta Konsumsi Rumah Tangga yang tetap terjaga daya belinya. Meskipun Konsumsi Pemerintah tumbuh positif, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tertahan oleh kontraksi pada kinerja Ekspor besi baja dan Impor bahan bakar minyak (BBM),” jelasnya.

Edwin mengungkapkan, indeks harga konsumen Sultra di bulan Januari 2026 mengalami inflasi sebesar 0,69 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan dengan capaian bulan Desember 2025 yang mencatat inflasi sebesar 0,22 persen (mtm), dan berbeda arah dengan catatan Nasional di angka -0,15 persen (mtm).

“Komoditas penyumbang inflasi utama yaitu emas perhiasan, ikan cakalang, ikan lajang, ikan kembung, dan ikan selar dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,25% (mtm); 0,10% (mtm); 0,10% (mtm); 0,06% (mtm) dan 0,04% (mtm).” Lanjutnya.

Sementara , kenaikan harga emas perhiasan disebabkan oleh tekanan harga emas global sebagai respon ketidakpastian ekonomi sejalan dengan instabilitas geopolitik di beberapa kawasan, yang mendorong peningkatan permintaan komoditas safe haven seperti emas.

Edwin menjelaskan, untuk kenaikan harga beberapa jenis ikan didorong oleh penurunan frekuensi melaut nelayan pada Januari 2026 sebagai dampak dari kurang baiknya cuaca dan relatif tingginya gelombang laut di atas 1,5 meter.

Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi Sultra yang solid tidak lepas dari perkembangan transaksi non tunai di Sultra yang turut didukung oleh tren akseptansi QRIS sebagai game changer pembayaran ritel masyarakat.

Dari segi demand, pengguna baru QRIS di Provinsi Sulawesi Tenggara bertambah sebanyak 31.723 pengguna pada TW-IV 2025 dengan total pengguna sebanyak 303.254 pengguna, tumbuh 12% (yoy) dibandingkan TW-IV 2024 yang sebanyak 271.531 pengguna QRIS.

Secara tahunan, pertumbuhan merchant QRIS meningkat 37,65% (yoy) menjadi 239.463 merchant dibandingkan TW-IV 2024 sebesar 173.964.

“Sedangkan, volume transaksi QRIS pada TW-IV 2025 adalah sebanyak 4.364.680 transaksi meningkat 184,61% (yoy) dibandingkan TW-IV 2024 yang sebanyak 1.533.544 transaksi. Jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan akseptasi QRIS yang semakin meluas di Sultra,” tegasnya. (Ariani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *