Pendidikan

Tim Pengabmas Poltekkes Kemenkes Kendari Edukasi Masyarakat Soropia, Latih Warga Membuat Eco-Enzyme

12002
×

Tim Pengabmas Poltekkes Kemenkes Kendari Edukasi Masyarakat Soropia, Latih Warga Membuat Eco-Enzyme

Sebarkan artikel ini
Tim Pengabmas Poltekkes Kemenkes Kendari foto bersama warga usai pelatihan cara membuat Eco Enzyme, Kamis (22/08/2024).

LENSATIMOR.COM, KONAWE – Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (Pengabmas) Poltekkes Kemenkes Kendari menggelar Pengabmas di Desa Mekar, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Kamis (22/08/2024).

Tema Pengabmas kali ini mengusung judul “Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Desa Mekar Kecamatan Soropia Melalui Pelatihan Pembuatan Cairan Pembersih Serbaguna Eco-Enzyme Menggunakan Teknologi Sederhana Dengan Memanfaatkan Limbah Rumah Tangga”.

Ketua Tim Pengabmas Poltekkes Kemenkes Kendari, Satya Darmayani saat mengedukasi masyarakat Desa Soropia.

Tim Pengabmas Poltekkes Kemenkes Kendari ini diketuai, Satya Darmayani,S.Si.,M.Eng berserta anggota yakniAnita Rosanty, S.ST.,M.Kes, Fonnie Esther Hasan, DCN.,M.Kes, Supiati, STP.,MPH, Sarimusrifah,SST dan Wa Ode Nurtimasia, SST.

Ketua Tim Pengabmas Poltekkes Kemenkes Kendari, Satya Darmayani mengungkapkan, rumah tangga merupakan penghasil sampah dalam jumlah sangat besar di Indonesia. Apalagi jika sudah terkumpul di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Ironisnya, lanjut dia, permasalahan sampah telah bertahun-tahun menjadi kasus yang sangat substansial namun belum dapat ditangani secara tuntas, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga negara-negara lain di dunia.

“Sistem pengolahan sampah terpadu hanya menjadi perencanaan dengan konsep yang masih menemui berbagai kendala, terutama akibat kurangnya sumber daya manusia yang memfokuskan perhatian terhadap hal ini, serta kurangnya tenaga kerja yang menjalankan aktivitas-aktivitas yang bersifat teknis,” ungkapnya.

Suasana pelatihan cara membuat Eco Enzyme di Desa Soropia Konawe.

Oleh karena itu, penanganan sampah ditengarai efektif jika dilakukan langsung dari sumbernya.

Pengolahan sampah secara mandiri in, kata Satya, diharapkan mampu memutus alur distribusi sampah dari rumah tangga ke tempat pembuangan akhir sehingga kondisi sampah di TPA tidak terlalu menumpuk, atau minimal, tidak terlalu bercampur antara sampah organik dan nonorganik sebab sampah organik telah diolah sendiri oleh rumah tangga.

Satya mengungkapkan, Eco enzyme adalah larutan hasil fermentasi limbah organik (seperti kulit buah dan sayuran) dengan gula dan air. Setiap orang dapat membuat produk ini dengan mudah.

Lanjut dia, bahan-bahan yang digunakan pun sederhana dan banyak tersedia di sekitar kita. Pembuatan produk ini hanya membutuhkan air, gula sebagai sumber karbon, serta sampah organik sayur dan buah.

“Gula yang digunakan adalah gula merah yang belum mengalami proses bleaching (pemutihan) seperti pada gula pasir sehingga dapat meminimalkan kemungkinan adanya residu senyawa kimia yang digunakan dalam proses bleaching,” ungkapnya.

“Selain itu, secara ekonomis harga gula merah lebih murah dibandingkan harga gula pasir,” sambungnya.

Produk eco-enzyme ini, kata Satya, sangat potensial untuk diproduksi dalam berbagai skala, tidak hanya dalam skala besar, tetapi juga dalam skala kecil di rumah tangga.

Oleh karena itu, produk ini sangat prospektif untuk diproduksi dalam berbagai skala, termasuk skala kecil dalam basis komunitas.

Saya mengungkapkan, Eco Enzyme memiliki segudang manfaat diantaranya untuk tanaman, bisa digunakan sebagai pupuk yang disemprotkan setiap minggu agar tanaman menjadi lebih subur dan buah menjadi lebih enak dan manis.

Selanjutnya sebagai anti hama. Eco Enzyme digunakan untuk mengusir kecoak, semut, dan serangga lainnya. Kemudian sebagai pembersih dapur. Eco Enzyme digunakan untuk membersihkan kompor dan peralatan dapur dengan cara menyemprotkan langsung.

Selanjutnya, sebagai cairan pencuci piring, Eco Enzyme dicampur dengan cairan pencuci piring dan air untuk mencuci piring.

Kemudian Eco Enzyme juga bisa digunakan sebagai cairan pembersih lantai, pembersih kloset, penyembuh Luka/Infeksi dan Bisul.

“Eco Enzyme juga bisa digunakan sebagai detox tubuh. Misalnya untuk merendam kaki guna melancarkan peredaran darah dan sistem saraf,” ungkap Satya.

“Selain itu, residu dari Eco Enzyme bisa digunakan sebagai starter untuk membuat Eco Enzyme baru atau sebagai bahan komposter, dan juga bisa ditaburkan di sekitar tanaman untuk menyuburkan tanah,” pungkasnya. (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *